Rabu , 19 Mei 2021
Home / NEWS / Dua Orang Tewas Tertembak dalam Unjuk Rasa Paling Mematikan di Kota Mandalay Myanmar

Dua Orang Tewas Tertembak dalam Unjuk Rasa Paling Mematikan di Kota Mandalay Myanmar

Pengunjuk rasa gelar aksi ‘Revolusi 22222’ pada Senin 22 Februari menentang kudeta militer di Myanmar. FOTO/Getty Images

 

MYANMAR – Dua orang tewas di kota Mandalay, Myanmar pada Sabtu (20/2), ketika polisi dan tentara menembak untuk membubarkan para pengunjuk rasa yang menentang kudeta 1 Februari, demikian disampaikan petugas kegawatdaruratan. Insiden ini menjadi hari paling berdarah dalam lebih dari dua pekan unjuk rasa.

Para pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di berbagai kota dan daerah di seluruh Myanmar, di mana para etnis minoritas, penyair, rapper, dan petugas transportasi publik berada di antara mereka yang meminta berakhirnya kekuasaan militer dan pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan tahanan politik lainnya.

Ketegangan meningkat dengan cepat di Mandalay, di mana polisi dan tentara berhadapan dengan para pekerja galangan kapal dan pengunjuk rasa.

Beberapa pengunjuk rasa menyerang polisi dengan ketapel sembari bermain kucing-kucingan melalui jalan pinggir sungai. Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata dan tembakan, dan para saksi mata mengatakan mereka menemukan selongsong peluru tajam dan peluru karet di tanah.

“21 orang terluka dan dua meninggal,” kata ketua relawan kegawatdaruratan Parahita Darhi, Ko Aung, dilansir The Straits Times, Minggu (21/2).

Satu pria meninggal karena luka di kepala, menurut salah seorang dokter relawan dan pekerja media Lin Khaing, seorang asisten editor Voice of Myanmar biro Mandalay.

Ko Aung dan dokter mengatakan pria kedua ditembak di dada dan meninggal kemudian karena luka yang dideritanya. Setelah diidentiifikasi keluarganya, korban kedua ini bernama Thet Naing Win (36), seorang tukang kayu.

“Mereka membawa jasad itu ke kamar jenazah. Saya tak bisa membawanya pulang ke rumah. Walaupun suami saya meninggal, saya masih punya putra saya,” kata istri Thet Naing Win, Thidar Hnin, kepada Reuters melalui telepon.

“Saya belum pernah ikut dalam gerakan ini tapi sekarang saya akan ikut. Saya tidak takut sekarang.”

Beberapa pengunjuk rasa yang terluka dibawa dengan tandu oleh para relawan medis, baju mereka penuh darah. Polisi tak bisa dikonfirmasi terkait insiden ini.

Seorang perempuan muda pengunjuk rasa, Mya Thwate Thwate Khaing, meninggal pada Jumat setelah ditembak di kepala pekan lalu saat polisi membubarkan pengunjuk rasa di ibu kota negara, Naypyitaw, kasus kematian pertama demonstran anti-kudeta.

Tentara mengatakan satu anggota polisi meninggal karena terluka dalam sebuah unjuk rasa.

Kedutaan Besar AS di Myanmar mengatakan pihaknya sangat terpukul karena penembakan fatal pada Sabtu di Mandala dan atas kematian Mya Thwate Thwate Khaing.

Televisi pemerintah MRTV dalam siaran berita malamnya tak menyinggung soal unjuk rasa atau kasus kematian tersebut.

Di kota Yangon, penduduk memukulkan panci dan wajan dalam ritual malam untuk mengusir setan, yang telah menjadi bagian protes kudeta. Di luar Kedubes AS di kota itu, puluhan pengunjuk rasa yang didominasi perempuan berkumpul menyalakan lilin, menyanyikan lagu anti kudeta.

Pada Sabtu, massa juga berkumpul di kota Myitkyina di wilayah utara, kota kuno Bagan, dan di Pathein delta sungai Irrawaddy, seperti ditunjukkan sejumlah gambar di media sosial. (Sumber: merdeka.com)

Tentang Kalimantan Today

Cek Juga

Soal Tukin Dinas LH Sanggau Belum Cair, DPRD Minta Sekda Cari Solusi

  KALIMANTAN TODAY, SANGGAU – Belum cairnya tunjangan kinerja (Tukin) atau Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *