Rabu , 15 Juli 2020
Home / NEWS / Akibat Ketergantungan dengan Negara lain Sudah Mulai Kelihatan

Akibat Ketergantungan dengan Negara lain Sudah Mulai Kelihatan

Foto: Suib
Foto: Suib

KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK–Perlahan namun pasti, harga berbagai kebutuhan pokok dan penting di Indonesia, khususnya di Provinsi Kalbar, mulai bergejolak, menyusul wabah corona virus di China.

“Terutama untuk bahan dapur, seperti bawang putih,” kata Suib, Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kalbar, kepada wartawan, Jumat (14/02/2020).

Legislator Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) ini memprediksikan, kenaikan harga bawang putih yang notabene lebih banyak diimpor dari China itu, akan diikuti komoditas lainnya.

“Kita lihat, dalam beberapa bulan ini pasti banyak barang yang mengalami kenaikan harga, seperti beras, ikan, pupuk, racun rumput dan lain sebagainya, terutama barang-barang impor,” ujar Suib.

Gejolak harga tersebut, menurut Suib, merupakan efek dari wabah coronavirus di China. “Hal ini akan berlangsung sampai vaksin coronavirus ditemukan,” ucapnya.

Setidaknya satu sampai dua tahun pascaditemukannya vaksin tersebut, barulah stabilisasi harga dapat terwujud. “Sampai detik ini vaksinnya belum ditemukan,” ungkap Suib.

Apabila vaksinnya tidak kunjung ditemukan, lanjut Suib, China akan terus “dikarantina”. Otomatis akan berdampak negatif pada sektor ekspor impornya.

Menurut Suib, Indonesia sudah sangat ketergantungan dengan China dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Bukan hanya bawang putih, tetapi juga barang-barang elektronik seperti smartphone, sparepart motor dan mobil, pupuk dan lainnya,” beber Suib.

Selama ini, Pemerintah Indonesia lengah terhadap hal itu. Setelah China dikarantina karena wabah coronavirus, barulah kepanasan. “Dampaknya juga dirasakan Kalbar,” kata Suib.

Bergejolaknya harga di pasar Indonesia sebagai akibat wabah Coronavirus di China ini, menurut Suib, merupakan bukti konkret dari berbahayanya ketika ketergantungan dengan negara lain.

“Tidak menutup kemungkinan, selain China juga ada kasus-kasus serupa di negara-negara lain yang diandalkan Indonesia untuk impor barang,” ingat Suib.

Bapak Pendiri Bangsa (Founding Father) Indonesia, kata Suib, sudah menggiring bagaimana agar bangsa ini tidak ketergantungan dengan negara lainnya.

“Karena dampaknya seperti ini. Sekarang, semua akan merasakan betapa sulitnya untuk barang-barang impor, yang menjadi kebutuhan rumah tangga,” jelas Suib.

Pemerintah, saran Suib, harus segera melakukan tindakan antisipasi untuk jangka pendek sambil memikirkan langkah jangka panjangnya.

“Untuk penanganan dalam waktu dekat ini, saya pikir kita coba menginventarisir kebutuhan pokok di pasar, penuhi kebutuhan lokal dulu. Harus ada penanganan khusus dari dinas terkait,” ujar Suib.

Kalaulah di pasar itu terjadi kelangkaan kebutuhan dapur, misalnya bawang putih, kata Suib, buatlah program penanamannya.

“Per penduduk saja, tidak bisa secara global, ini untuk jangka pendek dulu. Mengenai teknisnya, tentu dinas terkait mengetahui hal tersebut,” jelas Suib.

Kalau tidak ada penanganan seperti itu, ingat Suib, tentu pemerintah akan kesulitan memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Di dinas itu ada Penyuluh yang bisa memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk membaca situasi sekarang,” tutup Suib.(dik)

Tentang Kalimantan Today

Cek Juga

Sah! Raperda Pelaksanaan APBD 2019 Kabupaten Landak menjadi Perda

KALIMANTAN TODAY, LANDAK – Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *