Sabtu , 11 Juli 2020
Home / BENGKAYANG / Harga TBS Sawit Naik, Petanipun Tersenyum

Harga TBS Sawit Naik, Petanipun Tersenyum

Seorang warga memperlihatkan biji kelapa sawit yang telah disortir di Desa Rantau Sakti, Rokan Hulu, Riau, Selasa (16/9). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menargetkan produksi minyak sawit mentah (CPO) pada 2015 mencapai 33 juta ton, sebanyak 22 juta ton ditujukan bagi pasar ekspor sedangkan 11 juta ton diserap pasar dalam negeri. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ss/pd/14
Seorang warga memperlihatkan biji kelapa sawit yang telah disortir. ANTARA FOTO/Wahyu Putro

 

KALIMANTAN TODAY, BENGKAYANG – Kabar harga Tandan Buah Segar (BTS ) sawit naik tertanggal 28 Desember 2019 hingga saat ini menjadi Rp. 1.530 ribu rupiah. Sebelumnya, pada tahun 2018 sampai bulan Juni 2019 sempat mengalami penurunan harga hingga Rp. 800 ratus rupiah sampai Rp. 1000 rupiah perkilo.

Saat harga jatuh petani banyak meninggalkan kebunnya karena selain biaya operasional perawatan yang mahal, juga pupuk yang tidak bisa dibeli. Bahkan saat harga mengalami penurunan, banyak warga yang khususnya daerah perbatasan dengan negara tetangga Malaysia memilih atau lari menjadi TKI di Malaysia. Hal tersebut di lakukan untuk mempertahankan hidup meskipun disana banyak di tangkap oleh Polisi Malaysia. TKI yang bekerja di Malaysia juga sering tidak dibayar oleh bos atau toke ditempat mereka bekerja. Meskipun demikian, tak membuat mereka putus asa dan semangat, mereka tetap memilih untuk bekerja, daripada harus pulang ke Indonesia mereka tidak bisa cari makan, bahkan anak-anak karyawan banyak yang putus sekolah.

Ketua DAD Kecamatan Seluas, yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, Gustian Andiwinata menyatakan, memasuki tahun 2020 sejak tanggal 2019 harga TBS Sawit cukup baik untuk petani yang terus naik dengan harga Rp.1.530 khususnya untuk di Kecamatan Seluas, dan kabarnya di Kabupaten Landak sudah mengalami harga Rp.1.700 perkilogram.

Meskipun harga TBS sawit mengalami kenaikan harga, Gustian berharap pemerintah Jokowi Jilid II ini mampu mempertahankan kenaiksn harga TBS sawit bahkah jika perlu di atas Rp.2.000 perkilogram, dan pemerintah juga harus bisa kontrol dan buat regulasi yang jelas untuk pabrik sawit.

“Saya berharap pemerintah mampu mempertahankan harga TBS sawit, kalau bisa mencapai Rp. 2.000 rupiah perkilogram. Karena saat ini harga kok bisa beda-beda dan dimana perannya Pemerintah dan DPR RI yang seperti lepas kontrol. Demikian juga untuk Sortase atau pemotongan buah masyarakat selalu di atas 5 persen bahkan rata-rata pemotongan 8 persen,” ujarnya.

Dengan naiknya harga sawit ini jelas salah satu program yang mensejahterakan masyarakat karena perkebun lokal dapat menampung pekerja dan perputaran uang jadi lancar dan pasar jadi hidup dan bergairah.

BACA: Berita Hiperbola: Sekolah Tenggelam?

BACA: Sejumlah Anggota Polres Landak dijatuhi Sanksi Karena Langgar disiplin

“Pemerintah harus mampu selain pertahankan kenaikan harga Sawit juga harus bisa naikan harga-harga hasil pertanian lainnya seperti KARET dan Lada atau Marica alias sahang,” ucap Gustian.
Kata Gustian, yang menjadi kendala masyarakat sekarang hanya masalah pemupukan karena meskipun kebun sawit hanya 1 hektar milik warga tetap tidak dibolehkan menggunakan pupuk bersubsidi karena pupuk bersubsidi hanya untuk palawija. Dengan demikian berarti niat mensejahterakan masyarakat tidak nyambung atau maching karena sawit dianggap hanya milik orang kaya, pada hal warga saat ini selalu berorentasi pada tanaman yang bisa menunjang ekonomi mereka tidak terpaku pada palawija.

“Petani berharap pemerintah harus bisa memberikan dan memenuhi pupuk kebutuhan petani sawit juga yang penting mereka adalah petani bukan pengusaha atau perusahaan,” tambah Gustian.

Lanjut Gustian, petani tersenyum dengan naik harga sawit tapi menangis untuk pembelian pupuknya akibat regulasi tidak tuntas melihat kepentingan petani secara menyeluruh dan target mensejahteraan rakyat juga belum jelas masyarakat yang mana dan inginnya seperti apa.

Disisi yang lain, harga TBS sawit naik dan petani tertawa bahagia. Sisi lainnya petani karet menyetmeit karena harga tak kunjung naik.

“Petani Karet selain musim hujan tidak bisa noreh juga harga masih berkisar Rp.5000 sampaindengan Rp.7000 per kilo sehingga menjadi beban berat petani karet untuk bertahan hidup juga sekolahkan anak-anaknya.
Wakil Ketua DPRD kabupaten Bengkayang, Esidorus mengatakan, tentu kabar tersebut disambut dengan positif. Karena hal tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh petani. Ia berharap, dengan naiknya TBS sawit dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
“Tentu kita menyambut positif karena ini yang ditunggu-tunggu oleh petani. Dengan kenaikan harga TBS sawit dapat meningkatkn kesejahteraan petani. Kita juga berharap agar komoditi pertanian lainnya juga segera mengalami kenaikan harga seperti yang diharapkan,” ucap Esidorus. (Titi).

Tentang Kalimantan Today

Cek Juga

Hari Gini Masih Ada Puskesmas Tanpa Ambulans

  KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK – Kendati pembangunan di bidang kesehatan merupakan salah satu yang paling …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *