Minggu , 17 November 2019
Home / NEWS / Program Satu Desa Satu PAUD, Sanggau Sudah Lebih Dulu

Program Satu Desa Satu PAUD, Sanggau Sudah Lebih Dulu

Foto---Bupati Paolus Hadi ikut mencuci tangan di acara cuci tangan pakai sabun, di gedung Antong Ngelayan, Komplek Sabang Merah, Kamis (17/10)—Humas Pemkab Sanggau
Foto—Bupati Paolus Hadi ikut mencuci tangan di acara cuci tangan pakai sabun, di gedung Antong Ngelayan, Komplek Sabang Merah, Kamis (17/10)—Humas Pemkab Sanggau

 

KALIMANTAN TODAY, SANGGAU – Bupati Paolus Hadi menuturkan, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan hal yang baru dan asing bagi Kabupaten Sanggau. Perkembangan PAUD di Kabupaten Sanggau sangat pesat dikarenakan Pemerintah Kabupaten Sanggau sangat serius membina PAUD.

“Ketika ada program penuntasan Satu Desa Satu PAUD, Kabupaten Sanggau sudah melaksanakannya. Dan jumlahnya sudah melebihi dari jumlah desa yang ada,” ujar Bupati saat menyampaikan arahannya di acara Cuci Tangan Pakai Sabun Dalam Rangka Apresiasi Penilaian Bunda PAUD dan Gugus PAUD Tingkat Provinsi Kalimantan Barat 2019 di Sekretariat Bunda PAUD Kabupaten Sanggau, Antong Nelayan Komplek Sabang Merah Sanggau, Kamis (17/10).

Orang nomor satu di Kabupaten Sanggau ini juga menjelaskan, sebelumnya Kabupaten Sanggau hanya punya 30 PAUD, sekarang sudah 344 PAUD. Artinya satu desa, punya satu PAUD. Hal tersebut disepakati dan dibahas melalui Beraupm Bekudong (rapat besar) yang melibatkan seluruh stakeholder mulai dari Pemerintah Kabupaten sampai tingkat dusun.

“Sanggau tidak ngada-ngada membina PAUD, bukan kamuflase. Makanya pertumbuhan PAUD disini sangat pesat. Sejak tahun 2018, Pemerintah menargetkan program satu dusun satu PAUD di seluruh Kabupaten Sanggau yang berjumlah 865 Dusun,” kata Bupati kepada Dr. Vivi selaku Ketua Tim Apresiasi Bunda Paud dan Gugus PAUD Provinsi Kalbar tahun 2019.

Lebih lanjut, PH, sapaan Paolus Hadi menuturkan, kualitas guru PAUD itu memang penting. Namun ia berharap aturan yang ada tidak menjadi penghambat pembangunan PAUD di daerah. Karena kondisi di lapangan terkadang sulit menyesuaikan aturan untuk mencapai akreditasi.

“Jumlah sarjana masih sedikit, hanya sekitar tiga persen dari jumlah penduduk Kabupaten Sanggau. Di kampung, mencari tamatan SMA masih sulit. Apalagi mencari sarjana yang khusus untuk PAUD, dan disuruh ngajar di PAUD. Itu sangat sulit. Terpenting saat ini, bagaimana ada lembaga (PAUD) yang bersumber daya manusia, bisa dijalankan dengan maksimal,” terangnya. (Ram)

Tentang REDAKSI

Cek Juga

Audiens Dialog Kebangsaan di Konferensi dan Teater Untan Pontianak Jumat (15/11/2019)

Bela Negara Bukan Militerisasi

KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK–Apabila berbicara tentang bela negara, kesan yang pertama muncul di tengah-tengah masyarakat sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *