Minggu , 17 November 2019
Home / LINGKUNGAN / PLTN di Kalbar, Tony: Besar Mudharat Ketimbang Manfaatnya

PLTN di Kalbar, Tony: Besar Mudharat Ketimbang Manfaatnya

Foto: Tony Kurnadi
Foto: Tony Kurniadi

 

KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK – Menggunakan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik, lebih besar mudharat ketimbang manfaatnya. Oleh karenanya, wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalbar harus benar-benar dipertimbangkan.

“PLTN ini harus sangat-sangat serius dan sangat teliti untuk pengkajiannya. Jangan kita tergesa-gesa atas nama pemenuhan kebutuhan energi,” kata Tony Kurniadi, Anggota DPRD Provinsi Kalbar, ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/10/2019).

Jangan hanya karena atas nama pemenuhan kebutuhan energi, kata Tony, lalu mengabaikan hal yang substansi dalam Hak Asasi Manusia (HAM), yakni soal kenyamanan dan keselamatan seseorang dimana ia bermukim.

“Saya kira kita mesti belajar dari pengalaman negara-negara lain yang memanfaatkan nuklir untuk pemenuhan energi,” ingat Tony.

Sebut saja Tragedi Chernobyl di Ukraina (Ketika masih bagian Uni Sovyet) pada April 1986. Ledakan PLTN-nya melepaskan partikel radioaktif ke udara, hingga ke sejumlah negara tetangga.

Selain puluhan orang meninggal, warga juga masih menderita akibat berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi genetik. Bukan hanya manusia, hewan dan lingkungan pun terdampak. Diperkirakan sampai 100 tahun mendatang.

Pemerintah Ukraina pun menyatakan area tersebut tidak aman dihuni manusia sampai minimal 20.000 tahun lagi. Puluhan tahun telah berlalu, namun status kawasan tersebut kini masih tidak jauh berbeda dengan sesaat setelah kejadian.

Paling anyar, tragedi nuklir di Jepang pada Maret 2011. Gempa dan tsunami setinggi 15 meter menghantam reaktor nuklir di Fukushima. Tiga reaktor pun kehilangan fasilitas pendinginnya.

Lantaran pendinginnya tidak berfungsi, inti reaktor pun meleleh dan dalam tiga hari melepaskan radioaktif. Dampaknya, perairan di wilayah tersebut tercemar nuklir. Tidak ada korban jiwa, tetapi 100.000 orang terpaksa dievakuasi.

Akibat tragedi-tragedi tersebut, ungkap Tony, negara-negara di dunia secara perlahan mengurangi pemanfaatan nuklir di segala bidang, bukan hanya untuk listrik. “Kok kita di Indonesia malah cenderung ke energi nuklir,” sesalnya.

Alumnus Fakultas Teknik Untan ini lebih heran lagi, kenapa justru Kalbar yang menjadi titik tumpu pembangunan PLTN. “Kalau Kalbar dibilang sangat defisit energi, saya kira tidak demikian,” kata Tony.

Persoalan kelistrikan di Kalbar, menurut Tony, hanya bagaimana mengintensifkan mesin yang ada, perawatannya dan perbaikan manajemen serta kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) PLN. “Mesin-mesin yang sudah tua, jangan dipaksakan lagi, digantilah dengan yang baru,” ucapnya.

Persoalan listrik di Kalbar sebenarnya sesederhana itu, kata Tony, tetapi mengapa digembor-gemborkan isu seakan Kalbar ini sangat defisit energi sehingga seolah-olah harus membangun PLTN. “Isu ini yang mesti kita luruskan,” tegasnya.

Terkait beberapa pakar yang menyebutkan kalau Kalbar dipilih sebagai titik PLTN karena aman dari gempa. “Ini harus hati-hati bapak-bapak-bapak ibu-ibu semoga senantiasa dirahmati Allah Swt,” ingat Tony.

Perubahan iklim dunia saat ini, kata Tony, membuat manusia sama sekali tidak bisa memprediksi apa yang bakal terjadi di suatu daerah, termasuk di Kalbar.

“Contoh nyata kejadian di Arab Saudi yang notabene gurun pasir, tiba-tiba turun salju. Bagaimana mau menjelaskannya secara ilmiah,” ungkap Tony.

Banyak lagi contoh kasus di belahan dunia lainnya yang mencengangkan para pakar dunia terkait kejadian atau bencana alam. “Lalu bagaimana bisa menjamin Kalbar ini aman dari gempa,” kata Tony.

Jangan merasa aman dari bencana alam, lalu menjadikannya dalih sebagai penguat untuk mengolah uranium menjadi nuklir demi memenuhi kebutuhan listrik.

“Jangan sampai kita sudah mengeluarkan investasi yang sangat besar sampai triliunan untuk PLTN yang hanya efektif dimanfaatkan 40 tahun, malah mengancam keselamatan masyarakat se-Provinsi bahkan lebih, hingga ratusan tahun,” tegas Tony.

Ia menekankan kepada Badan Tenaga Nuklir (Batan) tidak terburu-buru untuk membangun PLTN di Kalbar. “Saya lebih cenderung PLTN ini tidak dibangun di Kalbar,” ucap Tony.

Pemerintah Daerah (Pemda) pun, lanjut Tony, hendaknya melakukan kajian yang lebih intensif dan komfrehensif terkait pemanfaatan nuklir.

“Jangan kita ikut permainan isu atau propaganda yang menyebutkan nuklir ramah lingkungan, menghasilan energi besar dengan biaya murah, tetapi mereka tidak mengungkapkan bagaimana jika reaktor nuklirnya bocor,” papar Tony.

Selain disebabkan bencana alam, tambah Tony, siapa yang bisa menjamin dalam suatu industri–bukan hanya PLTN–tidak terjadi human error. “Tidak ada yang bisa menjamin,” tutupnya.(dik)

Tentang REDAKSI

Cek Juga

Audiens Dialog Kebangsaan di Konferensi dan Teater Untan Pontianak Jumat (15/11/2019)

Bela Negara Bukan Militerisasi

KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK–Apabila berbicara tentang bela negara, kesan yang pertama muncul di tengah-tengah masyarakat sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *