Rabu , 13 November 2019
Home / BISNIS / Anak Muda Makin Enggan Bertani

Anak Muda Makin Enggan Bertani

Petani Sayur> FOTO/Lukas B Wijanarko
Menjadi petani saat ini kurang dilirik anak-anak muda. FOTO/Lukas B Wijanarko

KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK–Seiring perkembaagan zaman, menjadi petani semakin kurang dilirik anak-anak muda. Padahal kalau dijalani dengan baik dan benar, bukan mustahil untuk bisa mencapai hidup sejahtera dengan bercocok tanam.

“Bukan hanya di Kalbar, anak muda di daerah lain nampaknya semakin enggan menjadi petani,” ungkap Kadri, Anggota DPRD Provinsi Kalbar kepada Kalimantan Today belum lama ini di Pontianak.

Kadri
Kadri

Menurut Kadri, sudah menjadi tren kalau anak muda lebih memilih meninggalkan kampung halamannya guna menekuni profesi yang tidak ada kaitannya dengan pertanian.

“Saat ini mereka lebih senang bekerja di kota. Bekerja di kantor, di mall, supermarket atau bahkan counter dan lainnya,” papar Kadri.

Fenomena ini, kata Kadri, tentu sangat disesalkan dan tentunya dapat mengancam ketahanan pangan di masa mendatang. “Potensi di desa itu melimpah, dan lebih baik ditunjang tingkat pendidikan anak muda. Tetapi mereka lebih memilih memajukan daerah lain,” sesalnya.

Berdasarkan beberapa dialognya dengan anak-anak muda, Kandri mendapati kalau mereka menganggap petani bukan pekerjaan yang dapat menjamin ketersediaan finansial. “Dipikirnya jadi petani tidak bisa hidup layak,” ujarnya.

Anggapan sebagian besar anak-anak muda zaman sekarang itu tentu sangat disayangkan. Lantaran Indonesia, khususnya Kalbar ini merupakan daerah agraris.

Menjadi petani merupakan warisan turun temurun yang menjanjikan kesejahteraan. Perlu upaya keras bagaimana agar anak muda mau menjadi petani.

“Baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota harus selaras mensosialisasikan dan memberikan bukti bahwa sektor pertanian sangat menjanjikan dari segi penghasilan bagi para pemuda,” kata Kadri.

Selain itu, Kadri juga berharap pemerintah menyiapkan sarana-prasarana dan fasilitas memadai sebagai penunjang aktivitas pertanian. Ini agar tidak ada kendala dan kesulitan saat proses pertanian.

“Jangan sampai saat ada semangat bertani, lalu masih mengalami keterbatasan. Hilanglah semangat itu jadinya. Kemudian, pastikan ketika sudah berproduksi, pemasarannya mudah dan margin keuntungannya jelas, harga menjanjikan sesuai kualitas produksi pangan yang dihasilkan,” pungkas Kadri.(dik)

Tentang REDAKSI

Cek Juga

Kepala Pelaksana Tugas atau PLT Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa dan Daerah Tertinggal (DPMPD2T) Dodorikus

Ini Daftar Nama Bakal Calon Kades yang Ikuti Tes Kompetensi

  KALIMANTAN TODAY, BENGKAYANG – Sebanyak 50 Desa dari 14 Kecamatan akan menggelar Pemilihan Kepala …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *