Kamis , 21 November 2019
Home / BENGKAYANG / Akademisi Minta Pemerintah Kaji Ulang Rencana Pembangunan PLTN di Bengkayang

Akademisi Minta Pemerintah Kaji Ulang Rencana Pembangunan PLTN di Bengkayang

5A8F1922-0417-4A4E-BF76-A2FFBDFFCF17
KALIMANTAN TODAY, BENGKAYANG – Rencana pemerintah akan bangun PLTN di Kalbar, dan kabupaten Bengkayang di anggap paling cocok. Di Bengkayang tempat yang rencana akan dibangun PLTN adalah Pantai Gosong , kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.

Menurut hasil kajian dan riset Tim Penyiapan Pembangunan PLTN dan komersialisasinya, bahwa Kabupaten Bengkayang layak untuk dijadikan percontohan, bahkan hasil riset menyatakan 87 % masyarakat Provinsi Kalimantan Barat setuju pembangunan PLTN tersebut guna mendukung industrialisasi dan mensejahterakan masyarakat.

Menanggapi rencana tersebut, Wakil Ketua 1 Bidang Akademik, Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Santi Bhuana (STIM-SB) Kabupaten Bengkayang, Dr Helena Anggraeni (Reni) Tjondro Sugianto mengatakan, jika itu akan dibangun di Kalbar khususnya di Kabupaten Bengkayang pemeritah harus melakukan mengkaji ulang rencana tersebut. Sebab, PLTN ini bukan energi terbarukan, justru untuk kabupaten Bengkayang sendiri jika memang untuk kepentingan pasokan listrik, kenapa pemeritah tidak membangun energi yang ramah lingkungan, yang pasti bukan nuklir.

“Jadi akan banyak alternatif selain nuklir.
Apalagi Borneo dikenal sebagai negeri seribu sungai , memang lebih cocok kita membangun atau membuat PLTA. Kita ada laut dan pantai yang begitu luas bisa di jadikan PLTU . Jadi banyak alternatif, daripada kita ambil resiko yang besar, seperti membangun PLTN,” ungkapnya, Sabtu (31/8).

Selain itu, pemeritah juga perlu mempertimbangkan dampak positif dan negatifnya. Ia menjalankan, memang secara dampak positif jika PLTN di bangun tentu akan mendapatkan daya listrik yang besar, apalagi kita tahu cukup banyak dusun-dusun di Bengkayang yang belum ada listrik. Jika PLTN dibangun tentu akan mendapatkan pasokan energi listrik yang baru.

Selanjutnya, ada peningkatan teknologi yang rencananya akan dibangunnya taman IPTEK berbarengan dengan PLTN. “Itu kayaknya canggih, bagus dan akan membawa nama baik kabupaten Bengkayang, yang berada di perbatasan. Jadi kalau orang luar negeri masuk ke Bengkayang dan melihat ada kemajuan teknologi tentu itu sangat positif,” ucapnya.

Hal positif lainnya tentu dengan dibangunnya PLTN pasti akan mengundang investor dari luar negeri. Karena sebetulnya selama ini PLTN untuk Indonesia masih membutuhkan investor luar negeri.

“Dengan mengundang investor luar negeri, akan banyak dampak positif nya juga. Jadi Insfratruktur pasti akan dibangun, dan secara tidak langsung akan membangun perekonomian Kabupaten Bengkayang, karena infrastruktur yang lebih baik,” tambahnya.

Sedangkan berbicara dampak negatifnya,
dilihat dari proses ketika PLTN mulai dibangun itu artinya, akan membuat nuklir. Untuk membuat nuklir butuh membuat uranium. Sedangkan untuk membuat uranium, itu melalui proses ekstraksi berkali-kali, yang mengakibatkan pada pencemaran lingkungan.

“Jadi lingkungan kita akan tercemar, dan segala habitat ekosistem, ekologi akan menurun kualitasnya. Selain itu menurunkan kualitas kesehatan, berdampak pada kesehatan. Jujur saja, sekarang di Bengkayang ada PETI ada glondong, ada Dompeng yang memakai merkuri serta limbahnya tidak di olah dengan baik sehingga menyebabkan banyak penduduk yang sakit. Apalagi ini nuklir itu mengandung radioaktif,” kata Helena Anggraeni.

Selain proses ekstraksi uranium yang mencemari lingkungan, pengelolahan limbah radioaktif harus di manage dengan baik. Dan itu susah sekali. Karena untuk bisa terurai, membutuhkan waktu seratus sampai ribuan tahun, tergantung dengan komposisi nya.

“Dan itu tidak seperti sampah sayur yang mudah membusuk, kita berhadapan dengan limbah plastik saja sudah kelualahan, apalagi ini radioaktif,” ucapnya.

Kemudian antisipasi yang lainnya, bagaimana kalau terjadi human error, hal ini sesuatu yang wajib dipertimbangkan. Kerena selain kita belum memiliki pengalaman disitu, dan tidak mungkin 100 persen kita serahkan ke orang luar negeri yang berpengalaman. Jadi tentu pasti ada campur tangan kita, dan kemungkinan human error bisa terjadi.

“Nah jika hal itu terjadi, terjadi ledakan dan kebocoran dari radioaktif apa yang akan terjadi. Kita ingat kasus-kasus yang terjadi akibat dari bocornya radioaktif. Juga tahun 1945 Amerika menjatuhkan bom Nuklir di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang , apa yang terjadi, terjadinya badai api, Kerusakan, bahkan sampai ratusan kilometer orang-orang dan ternak, serta tumbuhan mengalami kepunahan. Apalagi PLTN yang baru itu menggunakan european pressurized reactor, itu akan menghasilkan limbah Radioaktif yang lebih kuat dan lebih tinggi. Dan itu berpengaruh pada gen manusia, yang berakibatnya kanker,” ucapnya.

Tapi semua orang bisa berargumen, pembangunan dilakukan di pulau yang kosong atau pantai gosong itu. Misalnya nanti terjadi sesuatu di pantai gosong ke Bengkayang kan dihubungkan dengan laut dan udara. Itu bisa menghantar radio tersebut dengan cepat. Kita ingat kejadian uni Soviet dan kemarin radioaktif sampai di Prancis dan Inggris, padahal itu sudah lintas negara. Apalagi yang dari pulau kosong atau pantai gosong ke Bengkayang,” ucapnya lagi.

Suster yang akrab di panggil suster Skolastika ini mengatakan, Resiko dari pada PLTN itu sangat tinggi. Dan toh nuklir bukan energi yang terbarukan, sementara negara lain sekarang sedang mencari energi yang terbarukan dan ramah lingkungan.

“Bengkayang itu punya pantai, bukit dan riam, dan baru-baru juga ada di bangun nya PLTU di wilayah pesisir dan itu juga sumber daya listrik. Riam- ruam bisa dibangun PLTA, dan di Bengkayang juga anginnya cukup kuat. Dan bisa menjadi sumber daya listrik. Kenapa mesti PLTN ?,” tanyanya.

Selain dari hal di atas, jika listrik yang dihasilkan dari PLTN, tentu masyarakat akan membayar lebih mahal. ” Karena PLTN kan mahal. Jadi harga jual tergantung dengan harga produknya. PLTN ini lumayan mahal, dan pasti dijual mahal. Dan apakah nanti rakyat Bengkayang bisa menikmati listrik itu?,” ucapnya lagi.

Ia menyarankan, kiranya pemeritah betul-betul dikaji ulang. Selain itu juga perlu melakukan kajian pada SOP, dan quality control-nya. Sebagai catatan , sebagus-bagusnya SOP , sebagus-bagusnya quality control itu tidak bisa melenyapkan human error.

“Tolong dengan sungguh-sungguh dikaji ulang,” pinta nya.
Sementara itu, Kepala Prodi Manajemen STIM-SB, Pramatatya Resindra Widya mengatakan hal yang serupa, dilihat dari sisi ekonomi pemerintah harus mengkaji ulang. Apa yang di investasi akan sebanding dengan resiko yang diterima. Artinya proses mitigasi resiko akan lebih besar mengalami kerugian.

“Mengingat Bengkayang ini berbatasan langsung dengan negara tetangga, terutama jika terjadi kesalahan atau kebocoran itu akan berpeluang mempengaruhi hubungan kerjasama dengan Malaysia. Apakah itu tidak menganggu hubungan bilateral dengan Malaysia? Yang selama ini saja gampang ‘panas’. Apakah dengan itu tidak bertambah lagi potensi-potensi konflik hubungan dua negara ini,” ungkapnya.

“Sedangkan jika bicara soal human error, memang masih bisa berdalih dengan adanya tenaga ahli tapi jangan lupa, yang namanya propabilitas human error itu sangat tinggi. Sebaiknya dikaji ulang, apakah solusi terbaik adalah PLTN, karena kita melihat dan mempertimbangkan resiko yang lebih besar,” tambahnya.

Terlebih juga di Kalimantan, terutama suku Dayak mengenal filosofi, hidup dengan alam. Makanya alangkah lebih baiknya membangun PLTB, atau PLTU. Itu akan lebih cocok. Sebab, debit air, surya itu besar sekali, dan bisa mengcover kebutuhan listrik. Bisa di manfaatkan ketimbang membangun PLTN yang pasti berdampak lebih tinggi.

“Justru lebih bermanfaat, kita juga suplai listrik dapat, dan kehidupan masyarakat tidak terancam. Kita berharap, rencana ini bisa dikaji kembali baik pemerintah daerah, provinsi dan kabupaten,” harapnya.
Siapkan SDM
Selanjutnya, kepala Prodi Kewirausahaan, Sabinus Beni mengakan, pembangunan PLTN tentu dari sisi peluang kerjanya ada. Karena suatu proyek yang ada di daerah tentu memberikan peluang kerja, tapi tidak bisa dilihat dari kesempatan kerjanya saja.

“Memang PLTN ini ada plus minusnya. Sedangkan untuk sekarang di luar negeri dan beberapa negara justru memilih menggaung kan energi terbarukan. Orang luar negeri mau beralih ke energi terbarukan, kenapa kita malah mau beralih ke nuklir,” katanya.

Sementara alam di Kalbar, Bengkayang maunya membangun berkelanjutan, kalau hanya untuk kesempatan kerja apakah di Kalbar SDM untuk itu sudah pas, atau hanya menguntungkan salah satu pihak.

“Kalau memang ini terpaksa, dan tidak ada jalan lain lagi dan harus nuklir sebelum itu harus mempersiapkan SDM yang benar, dan tentu harus ada orang asli Kalbar misalnya orang Dayak yang ahli nuklir tersebut,” pungkasnya.

“Jangan sampai ini dibilang untuk pembangunan di Kalbar, tapi ahli semua dari luar, bahkan dari luar negeri seperti Jepang. Dan lagi lagi, pada prinsipnya tidak setuju dengan nuklir, karena beberapa dampak yang mungkin tidak dirasakan sekarang tapi pada generasi selanjut,” tutur Beni. (Titi)

Tentang REDAKSI

Cek Juga

Suib

Alokasikan Anggaran Pilkada di Awal Periode

KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK–Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota digelar setiap 5 tahun sekali. …

Satu komentar

  1. Ada benarnya juga itu, dan perlu sosialisasi secara intensif serta pendekatan persuasif terhadap masyarakat juga (lbh banyak ketimpa negatif jika terjadi kebocoran seandainya), dan apa urgensinya juga PLTN di Bengkayang toh saat ini sudah ada Sumber Listrik Indo-Malay?? Mengingat kasus terbaru terjadi meledaknya bahan roket (katanya sih, lihat https://www.bbc.com/indonesia/dunia-49341802) yg berbahan Uranium/Nuklir di negara Wilayah Rusia yg notabene jaraknya jauh dari keramaian (300an km). Apa kabupaten Bengkayang sudah siap dengan segala resikonya pada umumnya, tentu secara khusus Negara akan menjamin bila ada resiko?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *