Sabtu , 7 Desember 2019
Home / BENGKAYANG / Kegigihan Dalam Pondok Reyot

Kegigihan Dalam Pondok Reyot

Kegigihan

Oleh Maysramo

Kontestasi pemilihan gubernur yang seharusnya selesai saat gubernur terpilih dilantik ternyata belum lagi pungkas. Kunjungannya ke pondok siswa di Kabupaten Bengkayang, tidak hanya dimaknai kunjungan gubernur biasa. Namun lebih kental bobot politiknya dengan narasi yang penuh dramatisasi, “saya hampir nangis melihatnya”. Bikin siapa pun yang membaca temehek-mehek.

Bila ditarik mundur jauh ke belakang, pondokan yang disebut asrama itu sudah ada sejak tahun 70-an, atas inisiatif orang tua yang anak-anaknya menempuh jarak yang jauh dari rumah menuju sekolah. Anak-anak itu tidak saja berasal dari Bengkayang, namun dari kabupaten Sambas yang desanya bertetangga dengan Dusun Sempayuk, Bengkayang.

Baca: Kunjungi Pelajar Yang Tinggal di Gubuk Berlantai tanah, Sutarmidji: Saya Mau Nangis

Dari info yang beredar, Berdasarkan data yang  25 pelajar berdasarkan asal daerah diantaranya pelajar SD dengan rincian 16 asal Sentalang (Bengkayang), 5 Sejaroh (Ledo) dan 4 Elok Sempitak (Subah, Sambas). Sisanya, 1 pelajar SMP asal Sentalang, 2 asal Sejaroh serta 3 pelajar SMA. Selain tinggal dipondok, para pelajar itu juga terkadang tinggal bersama warga setempat.

Pemkab Bengkayang bukan berarti tutup mata, terungkap satu hari sebelum kunjungan gubernur, Pemkab sudah mengambil kebijakan untuk membangun asrama di sekitar lokasi pondokan. Namun kebijakan ini tenggelam dengan kedatangan gubernur yang meninjau lokasi tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan Bupati Bengkayang perihal langkah-langkah yang telah dan akan diambil.

Hal itu tergambar jelas, dimana tinjauan gubernur hanya ditemani Sekda dan kepala dinas pendidikan Pemkab Bengkayang. Diperoleh informasi pula pada hari yang sama Bupati Bengkayang tengah berada di Sungkung yang mengalami bencana tanah longsor.

Pola singgah di rumah warga atau pondok, bukan hal baru bagi para orang tua di Kalimantan Barat mengingat jarak tempuh dan kondisi lapangan dari rumah ke sekolah. Buat orang luar, kondisi tersebut jauh dari kelayakan bahkan tidak manusiawi, namun kegigihan anak-anak untuk belajar mengalahkan itu semua.

Kegigihan anak-anak Kalbar dalam pondok-pondok reyot menjadi tamparan keras bagi para pemangku kepentingan dan mereka yang berkuasa untuk segera melupakan perbedaan dan kembali bergandengan tangan membangun fasilitas pendidikan yang layak bagi anak-anak Kalbar menjemput impiannya. ( * )

 

Tentang REDAKSI

Cek Juga

Subhan Nur

Usut Kasus Gratifikasi BPN Sampai ke Akar-akarnya

  KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK–DPRD Provinsi Kalbar meminta kasus gratifikasi terkait pendaftaran tanah tidak berhenti sampai …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *