Rabu , 1 Februari 2023
Home / NASIONAL / Romantisme Luka

Romantisme Luka

Ilustrasi/Kalimantan Today
Ilustrasi/Kalimantan Today

 

Oleh Maysramo

Ia yang bersangkur kemarahan gagah berdiri menghadang dan menentang. Ia menghardik para pendoa sebagai mahluk celaka yang harus dienyah secepatnya. Ini tanah kami jangan engkau cemari dengan doa-doamu.

Para pendoa beringsut dengan membawa tongkat dari bambu yang dibiarkan membentuk garis di tanah berdebu. Kami mengenalmu sedari kecil, mandi bersama di sungai yang sama dengan keriangan yang sama saat berlompatan dari dahan pohon yang sama. Namun kini saat dunia sudah jauh berubah, kami tapi lagi  mengenalmu,  terasing di dalam kebersamaan, sendiri dalam persaudaraan. Kami tak lagi mengenalmu sebagaimana dulu kami menghalang-halangi para tetua dengan rotannya menghukum kenakalan yang tercipta.

Lalu seseorang wanita dari jauh berteriak, “nasib negeri  bagai telur di ujung tanduk untuk apa hanya berdiam diri, bergeraklah jangan hanya diam!”

Ia yang bersangkur kemarahan tertawa terbahak.

Para pendoa saling berpandangan.

Nasib yang mana? Negeri yang mana? Apakah nasib negeri ini yang diteriakannya – gelak tawa tak henti terdengar – para pendoa kian menyusut dalam kejauhan meninggalkan garis yang terus memanjang.

Ingatlah pada satu negeri yang diikat hanya dengan sebuah kata “demi”, sebagai jalan tengah mengakhiri perdebatan panas soal ketuhanan. Sebab Tuhan dijadikan jalan tengah, maka Tuhan pula yang dijajakan untuk melepas ketidakpuasan dan atas nama Tuhan dipakai menjaga kedamaian penuh takut curiga. Tuhan pun menjelma  bagai api dalam sekam yang terus menebar hawa panas dalam perjalanan sejarahnya.

Tak terbilang beribu kasus ia  yang bersangkur kemarahan berteriak, “Kami membela Tuhan kami”, “Kami hanya ingin menegakkan apa yang tuhan kami ajarkan” atau banyak kami lainnya berselimutkan Tuhan, hingga Tuhan yang begitu damai berubah menjadi Tuhan yang berangasan.

Keadaan memang sudah berubah, mimpi dan kenangan coba diwujudkan. Hari ini dan hari-hari berikutnya romantisme itu dijajakan bersangkur kemarahan dalam mencari pengakuan. Dan, pada pendoa memilih sunyi.

 

Tentang Kalimantan Today

Cek Juga

Dr. Sim dan Dunia Tinju Indonesia

  KALIMANTAN TODAY, PONTIANAK – Dr. (H.C.) Urgyen Rinchen Sim atau lebih akrab dipanggil Dr. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *