Jumat , 9 Desember 2022
Home / BENGKAYANG / Tim Gabungan Hentikan Pencarian Korban Longsor Tambang Emas Perbatasan Bengkayang – Sambas

Tim Gabungan Hentikan Pencarian Korban Longsor Tambang Emas Perbatasan Bengkayang – Sambas

 

KALIMANTAN TODAY, BENGKAYANG  – Proses evakuasi sekaligus pencarian korban tertimbun longsor di lokasi penambangan emas tanpa izin (PETI) di perbatasan Bengkayang-Sambas, tepatnya di sekitaran dusun Sencepu, dihentikan hari ini. Tepatnya hingga Minggu (18/9) sekira jam 09.00 WIB, setidaknya sudah 13 korban berhasil ditemukan, dengan rincian 4 meninggal dan 9 mengalami luka.

Dikonfirmasi terkait kelanjutan evakuasi, Kapolres Bengkayang, AKBP Bayu Suseno memastikan, pihaknya menerima informasi ada satu pekerja asal Selakau Timur (Kabupaten Sambas) yang ditemukan dalam keadaan selamat, namun kritis.

“Awalnya korban yang baru ditemukan diduga sudah meninggal dunia, namun ternyata yang bersangkutan masih hidup dan saat ini sudah di rawat jalan di rumahnya, di Kecamatan Selakau Timur, Kabupaten Sambas,” jelas Kapolres.

Dengan kondisi itu, kata Kapolres, sampai kini sudah 13 korban sudah ditemukan. Dengan rincian 4 meninggal dunia, dan 9 selamat namun mengalami luka.

Kapolres turut memaparkan keempat korban ditemukan meninggal diantaranya Hermanus warga Monterado, Yohanes Naga warga Monterado, Piko warga Lembah Bawang, dan Tumin warga Selakau Timur.

Sementara untuk korban selamat, diantaranya Martinus warga Monterado, Makarno warga Monterado, Pitrus Ipit warga Monterado, Benediktus Ayen warga Monterado, Bombat warga Monterado, Yohanes Rudi warga Monterado, Basuni Iyent warga Monterado, dan Aldo Firdaus warga Monterado, dan Sapaud warga Selakau Timur.

Sementara di hari kedua pencarian, Kapolres menuturkan tim gabungan dari Polres Bengkayang, Kodim 1202/Skw, Basarnas Singbebas, BPBD Bengkayang, dan unsur masyarakat setempat melakukan pencarian dengan sistem pembagian dua regu.

“Untuk anggota Regu 1 diisi tim dari Polres Bengkayang akan melakukan upaya evakuasi korban dengan cara manual di lokasi longsornya tanah yang sebelumnya telah dikeruk menggunakan eksavator pada hari pertama,” jelas Kapolres.

“Sementara Regu 2 melakukan penyisiran di hutan di sekitar TKP untuk mencari dan menemukan korban yang mungkin berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan untuk diberikan pertolongan,” timpalnya.

Pencairan di hari kedua kata Kapolres, tidak ditemukan korban baru. Sehingga baik baik Tim dari Polres Bengkayang maupun Kodim 1202 Singkawang menarik pasukan kembali ke tempat masing-masing. Namun kata Bayu, pasukan dari Bromob Singkawang yang berjumlah 29 orang akan menjaga status quo TKP.

“Pasukan Brimob akan menepati Posko yang telah kita dirikan di dekat TKP. Dan sampai saat ini tidak ada lagi laporan dari warga Bengkayang yang melaporkan kehilangan keluarganya ,” jelas Bayu.

Sementara terkait penetapan lokasi longsor di area tambang ilegal tersebut, Kapolres mengungkapkan hal tersebut merupakan wewenang Pemda setempat, baik itu Pemda Sambas maupun Pemda Bengkayang.

“Yang jelas kita bersama tim gabungan disini fokus untuk melaksanakan Operasi Kemanusiaan, terutama melakukan proses evakuasi terhadap korban,” ujarnya.

Kapolres menuturkan sampai saat ini pihaknya masih menunggu keputusan dari Bupati Bengkayang maupun Bupati Sambas, terkait penetapan apakah TKP longsor tersebut terjadi di wilayah Kabupaten Bengkayang atau Kabupaten Sambas.

“Apabila TKP masuk Kabupaten Bengkayang, maka kita dari Polres Bengkayang yang akan lakukan penyidikan. Namun sebaliknya, apabila TKP masuk wilayah Kabupaten Sambas, maka Polres Sambas yang akan lakukan penegakan hukumnya,” pungkas dia.

“Yang pasti kami menunggu keputusan kedua Bupati (Bengkayang -Sambas),” sambungnya.

Lebih lanjut Bayu memaparkan, sebagai alat bukti pihaknya sudah amankan empat buah mesin dompeng, dan empat buah pompa air – sambil menunggu lokus. Dan pihaknya akan kembali di tanggal 20 September untuk mengecek kembali TKP.

Sementara itu, Anggota Basarnas Singbebas, Zul memastikan pencairan terhadap korban longsor tambang emas dihentikan hari ini. Hal tersebut dilakukan sebab tak ada tanda-tanda korban (baru) dalam bencana ini. Hal tersebut juga lanjut Zul, merupakan hasil koordinasi tim gabungan baik itu BPBD, Basarnas, TNI-POLRI, dan pihak terkait lainnya. Meski demikian, pihak Basarnas tetap melakukan pemantauan.

“Pencairan dihentikan, karena dari hasil pencarian di hari kedua tidak adanya tanda-tanda korban, ataupun tidak ada lagi laporan dari warga akan kehilangan anggota keluarganya,” jelas Zul. (Titi)

Tentang Kalimantan Today

Cek Juga

Biaya Penerangan Jembatan Tayan Capai Rp 5 Miliar Pertahun

  KALIMANTAN TODAY, SANGGAU. Biaya pemeliharaan penerangan Jembatan Tayan pertahun ternyata cukup mahal. Mencapai Rp.5 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *